KEDISIPLINAN
SISWA
A. Kedisiplinan Siswa
1.
Pengertian
Disiplin
Menurut Kadir
(1994:80), disiplin adalah: “kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada
pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak
agar dapat mengendalikan diri, agar berperilaku tertib dan efisien”, Sedangkan
disiplin menurut Djamrah, (2002: 12), adalah: “suatu tata tertib yang mengatur
tatanan kehidupan pribadi dan kelompok”. Kedisiplinan mempunyai peranan penting
dalam mencapai tujuan pendidikan.
Dari pendapat
diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan
yang ada dalam tatanan hidup baik dalam kehidupan individu maupun kelompok.
Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan berdisiplin apabila seseorang dapat
melaksanaan tugas dengan baik sesuai dengan aturan-aturan yang ada.
2.
Disiplin
Siswa
Seorang siswa
yang disiplin dalam tugasnya dilingkungan sekolah juga dapat menjadi cermin
bagi sikap dan perilakunya, seperti yang telah dikatakan oleh Syamsul Kurniawan
(2017:90) yang mengatakan: “Kedisiplinan adalah cermin kehidupan suatu
masyarakat atau bangsa. Maknanya, dari gambaran tingkat kedisiplinan suatu
bangsa akan dapat dibayangkan seberapa tingkatan tinggi rendahnya budaya bangsa
yang dimilikinya”.
Disiplin seorang
siswa dalam lingkungan sekolah sangat diharapkan demi mendukung mutu atau
kualitas sekolah tersebut dalam meraih akreditasi sekolah menjadi lebih baik
lagi. Arti disiplin bila dilihat dari segi bahasanya adalah latihan ingatan dan
watak untuk menciptakan pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi
ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran
untuk melakukan suatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tampa paksaan dari
siapa pun (Asy Mas’udi, 2000:88).
Sikap patuh
terhadap peraturan-peraturan yang ada, yang berarti mengikuti orang untuk
belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin itu sudah merupakan sikap
disiplin. Tatang S. (2015:174) mengatakan: “Dalam organisasi sekolah penerapan
peraturan sekolah kepada anggota organisasi sekolah dikelola oleh pimpinan.
Pimpinan diharapkan mampu menerapkan konsep disiplin positif, yaitu penerapan
peraturan melalui kesadaran bawahannya. Sebaliknya, jika pimpinan tidak mampu
menerapkan konsep disiplin positif pada dirinya sendiri, tentu ia tidak mungkin
mampu menerapkannya kepada orang lain, termasuk kepada bawahannya. Dengan
demikian, disiplin itu sangat penting dalam proses pencapaian tujuan. Hal ini
merupakan suatu syarat yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan yang
dimaksud”.
Seorang guru sangat berperan penting
dalam menegekkan sikap disiplin siswa, terutama sikap disiplin siswa di dalam
kelas saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Zuldafrial (2009:124),
menyatakan bahwa dalam rangka untuk menciptakan suasana kelas yang efektif bagi
berlangsungnya proses belajar mengajar, maka disiplin kelas perlu ditegakkan
oleh guru maupun murid-murid.
3. Diplin Belajar Siswa
Disiplin belajar
merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang
siswa dalam proses belajarnya. Disiplin merupakan titik pusat dalam pendidikan,
tanpa disiplin tidak akan ada kesepakatan antara guru dan siswa yang
mengakibatkan prestasi yang dicapai kurang optimal terutama dalam belajar.
Berikut adalah pendapat disiplin menurut para ahli. Perilaku disiplin sangatlah
diperlukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun, begitu juga siswa yang harus
disiplin dalam mentaati tata tertib sekolah, ketaatan dalam belajar, disiplin
dalam mengerjakan tugas dan disiplin dalam belajar di rumah sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai.
4. Faktor -
Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Belajar
Permasalahan disiplin belajar siswa
biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau hasil belajarnya.
Permasalahan-permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, pada
umumnya berasal dari faktor intern yaitu dari siswa itu sendiri maupun faktor
ekstern yang berasal dari luar.
Beberapa faktor yang mempengaruhi
disiplin adalah sebagai berikut:
·
Kesadaran diri, berfungsi sebagai pemahaman diri bahwa
disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain
kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terbentuknya disiplin.
·
Pengikut dan ketaatan, sebagai langkah penerapan dan
praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini
sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan
dan kemauan diri yang kuat.
·
Alat pendidikan, untuk mempengaruhi, mengubah, membina
dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai yang ditentukan dan diajarkan.
Hukuman, sebagai upaya menyadarkan,
mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang
sesuai dengan harapan (Tu’u, 2004:48-49).
5. Disiplin Kelas
Untuk memahami tentang konsep
disiplin kelas, perlu kiranya diketengahkan beberapa pendapat tentang disiplin
tersebut. Menurut The Liang Gie (Zuldafrial, 2009:124) mengatakan: “yang
dimaksud dengan disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang
tergantung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah
ada dengan rasa senang hati”.
Berdasarkan pendapat diatas maka
disiplin kelas dapat diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana guru dan
murid-murid mematuhi peraturan kelas sehingga mereka dapat menjalankan fungsi
masing-masing secara efektif dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar
didalam kelas.
6. Jenis-jenis Disiplin Kelas
Berdasarkan uraian diatas, disiplin
kelas dapat dibedakan menjadi dua jenis menurut Zuldafrial (2009:126) yaitu:
a.
Disiplin yang timbul atas kesadaran kelas sendiri
(murid-murid dalam kelas)
Murid-murid dalam kelas tertib dan
teratur dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru bukan karena
takut terhadap sanksi yang akan diberikan, tetapi karena kesadaran dan kemauan
sendiri. Disiplin kelas yang demikian akan membawa kelas menjadi dinamis dan
produktif.
Disiplin kelas yang dinamis hanya
dimungkinkan oleh kepemimpinan guru yang demokratis. Karena peraturan atau
ketentuan digariskan untuk menjaga ketertiban kelas merupakan keputusan bersama
antara guru/wali kelas dan murid-murid. Oleh karena itu baik guru maupun
murid terdorong dan merasa ikut
bertanggung jawab untuk melaksanakan ketentuan tersebut dengan rasa ikhlas dan
senang hati tampa merasa terpaksa.
b.
Disiplin yang timbul karena paksaan dari guru/wali
kelas
Suatu keadaan tertib dan teratur
didalam kelas pada saat berlangsungnya kegiatan belajar, bukanlah karena
kesadaran atau kemauan murid-murid, tetapi karena takut terhadap sanksi yang
diberikan oleh guru/wali kelas. Disiplin kelas bersifat semu, kelas hanya
tertib apabila guru/wali kelas berada di dalam kelas.
Disiplin kelas yang demikian hanya
dimungkinkan oleh tipe kepemimpinan guru/wali kelas yang bersifat otoriter.
Murid-murid diharuskan untuk mematuhi peraturan kelas dan diancam akan
diberikan hukuman yang berat apabila tidak dipatuhi atau dilanggar. Peraturan
yang digariskan adalah peraturan yang di buat oleh guru/wali kelas sendiri.
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kelas
Zuldafrial (2009:127) mengatakan:
“Dalam setiap organisasi kerja, baik besar maupun kecil dalam usaha untuk
mewujudkandisiplin terhadap personalnya, selalu dipengaruhi berbagai faktor”.
Dengan demikian, sama halnya dengan kelas sebagai suatu organisasi kecil
dibidang pendidikan dalam usaha untuk menegakkan disiplin terhadap guru-guru
maupun murid-murid.
Disiplin guru dan murid-murid sangat
penting sekali artinya, sebab tampa kedisiplinan guru dan murid, maka aktivitas
belajar mengajar tidak efektif dan tentu saja akan berpengaruh terhadap
pencapaian tujuan pendidikan, khususnya tujuan intruksional. Agar disiplin
kelas dapat dipelihara dan ditingkatkan, maka guru/wali kelas hendaknya harus
mengetahui dan memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kelas.
Sehubungan dengan itu, Siti Meichati
(Zuldafrial 2009:128) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
disiplin kelas yaitu sebagai berikut:
a.
Faktor kesehatan
Kesehatan seseorang pada umumnya
mempunyai pengaruh besar terhadap disiplin kerja. Orang-orangyang sakit tentu
sudah tidak dapat menegakkan disiplin kerja, karena sakit dapat mengakibatkan
seseorang akan tidak fokus pada kerjaan jika ia masih mampu untuk bekerja dan
orang yang sakit akan juga dapat menyebabkan tidak masuknya kerja yang
disebabkan oleh sakit.
Demikian pila dengan guru-guru dan
murid-murid yang sering sakit-sakitan tidak dapat menegakkan disiplin. Sebagai
contoh misalnya berdasarkan ketentuan, seorang guru bidang studi ilmu
pengetahuan sosial harus dapat menyelesaikan materi pelajaran dalam waktu satu
semester. Tetapi karena sering tidak masuk kelas karena sakit, maka guru
tersebut tidak dapat menyampaikan materi pelajaran mata pelajaran yang diampunya
sesuai dengan program mengajarnya yang telah disusunnya dalam satu semester.
Demikian pula halnya dengan murid
yang seharusnya sudah menerima seluruh materi pelajaran yang disampaikan oleh
guru, karena sakit sering tidak masuk sehingga ketinggalan pelajaran. Dari
pernyataan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kesehatan juga tidak kalah
pnetingnya untuk mendukung diri seseorang untuk disiplin.
b.
Faktor Perorangan
Yang dimaksud faktor perorangan
adalah sikap seseorang terhadap suatu peraturan. Walaupun sudah mengetahui
tentang ketentuan atau peraturan yang sudah ada masih juga dilanggar, atau
bersikap acuh tak acuh terhadap ketentuan tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari
murid-murid yang tidak mau mengindahkan peraturan digariskan baik oleh
guru/wali kelas maupun oleh sekolah. Sebagai contoh misalnya hari senin
murid-murid diharuskan untuk ikut apel bendera dan memakai pakaian seragam
sekolah. Tetapi peraturan tersebut masih juga dilanggar murid, walaupun ia
sudah mengetahuinya.
c.
Faktor Sosial
Yang dimaksudkan dengan faktor
sosial di sini adalah faktor manusia, manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial maka manusia mempunyai kecenderungan-kecenderungan sebagai
akibat:
1.
Manusia didalam kelompoknya selalu ingin
diikutsertakan.
2.
Manusia didalam kelompoknya ingin diperhatikan.
3.
Manusia didalam kelompoknya selalu ingin berhasil dan
dihargai kelompoknya.
4.
Manusia didalam kelompoknya memerlukan penghargaan dan
perasaan diperlukan oleh orang lain.
5.
Manusia didalam kelompoknya memerlukan sesuatu yang
dapat membebaskan diri dari keterikatan waktu dan ruang.
Murid-murid atau siswa-siswa sebagai
manusia, makhluk sosial tidak terlepas dari kecenderungan-kecenderungan
tersebut. Oleh karena itu seorang guru/wali kelas dalam usaha untuk
menciptakan, memelihara dan meningkatkan disiplin kelas harus memperhatikan
hal-hal tersebut. Sebagai contoh seroang guru/wali kelas dalam mengambil suatu
keputusan yang menyangkut kepentingan kelas, tampa berunding dengan
murid-murid, mengakibatkan keputusan-keputusan tersebut tidak dilaksanakan atau
dipatuhi oleh murid-muridnya.
d.
Faktor Lingkungan
Lingkungan kerja yang baik dan sehat
dapat meningkatkan gairah kerja personil yang ada dalam suatu organisasi. Hal
ini membawa pengaruh pula pada peningkatan disiplin kerja personil. Demikian
pula lingkungan kerja yang kurang baik akan menurunkan semangat kerja dan
gairah kerja suatu organisasi yang pada akhirnya juga akan menurunkan disiplin
kerja.
Kelas yang lingkungan kerjanya sehat
dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara murid dengan murid,
guru dengan murid dan guru dengan guru akan meningkatkan disiplin belajar
mengajar dikelas. Dengan demikian lingkungan belajar yang baik akan memberi
dampak yang baik pula untuk proses belajar mengajar.
·
B.
Bentuk Pelaksanaan Disiplin
Menurut Fani Julia dalam jurnalnya yang berjudul “Disiplin Siswa di Sekolah dan Implikasinya dalam Pelayanan Bimbingan
dan Konseling” menyatakan ada lima bentuk pelaksanaan disiplin, yaitu:
1.
Disiplin dalam kerapian
Siswa
menyadari kebutuhan dan kewajibannya sebagai pelajar untuk mematuhi dan
mengikuti aturan yang ada di sekolah. Hal ini senada dalam Instruksi Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan No.14/U/1979 tertanggal 1 Mei 1974 yang dikutip
Nawawi (1985) menyatakan:
Aspek-aspek
yang tercakup dalam tata tertib itu adalah sebagai berikut:1) Tugas dan
kewajiban dalam kegiatan sekolah, meliputi: a) Masuk sekolah. b) Waktu belajar.
c) Waktu istirahat. d) Waktu pulang. 2) Larangan-larangan bagi siswa:
Meninggalkan sekolah/pelajaran selama jam-jam pelajaran berlangsung, tanpa izin
kepala sekolah, guru yang bersangkutan dan guru piket. 3) Sanksi-sanksi bagi
para siswa, dapat berupa: a) Peringatan secara lisan langsung kepada siswa. b)
Peringatan tertulis kepada pelajar dengan tembusan kepada orang tua/wali.
Dengan
adanya kesadaran siswa untuk menjalankan peraturan dan tata tertib yang ada
maka siswa akan bertingkah laku sesuai dengan aturan tersebut, dan mempunyai
dampak positif terhadap keberhasilan siswa dalam belajar.
2. Disiplin
dalam kerajinan
Sebagaimana
yang dikemukakan oleh TUU Tulus (2004:48) tanpa disiplin yang baik, kegiatan
dan proses pendidikan akan terganggu karena ada yang melanggar disiplin
sekolah. Pelaksanaan peraturan dalam kerajian kepada siswa juga mempengaruhi
hasil belajar siswa. Siswa yang menerapkan peraturan dengan baik akan
memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak
menerapkan peraturan dengan baik.
3. Disiplin
dalam kebersihan lingkungan
Kebersihan lingkungan sekolah merupakan
tanggung jawab bersama untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar.
Sesuai dengan pendapat TUU Tulus (2004:36) yang menyatakan bahwa lingkungan
sekolah yang teratur, tertib, tenang tersebut memberikan gambaran lingkungan
siswa yang giat, gigih, serius, penuh perhatian, sungguh-sungguh dan kompetitif
dalam kegiatan pembelajaran.
Lingkungan sekolah diartikan sebagai
lingkungan dimana siswa dibiasakan dengan nilai-nilai tata tertib sekolah dan
nilai-nilai kegiatan pembelajaran berbagai bidang studi. Ini berarti memang
kebersihan lingkungan sekolah itu sangat perlu dijaga dan dilestarikan. Hal ini
dimaksudkan agar siswa mampu melaksanakan proses belajar dengan baik untuk
mengembangkan potensi yang dimilikinya.
4. Disiplin
dalam pengaturan waktu belajar
Dengan adanya pengaturan waktu ini dan
adanya jadwal yang tepat dapat membantu siswa untuk disiplin dan bisa mengatur
waktu seoptimal mungkin. Menurut Maman Rahman 1999 (dalam TUU Tulus, 2004:35)
bahwa dengan adanya penerapan disiplin akan membantu peserta didik belajar
hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi
lingkungannya. Kebiasaan-kebiasaan yang dapat dikembangkan oleh siswa adalah
bagaimana ia bisa mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun dirumah.
5.
Disiplin
dalam kelakuan
Dalam
menjalankan sikap disiplin dalam kelauan, sering kali kita mendengar
cerita-cerita dari pelajar yang secara tidak sengaja kita dengar bahwa disiplin
dalam kelakuan ini terus terjadi sampai saat ini, yaitu masih ada siswa yang sering
keluar masuk kelas ketika guru sedang menerangkan pelajaran, siswa terlambat
menyerahkan tugas yang diberikan guru,cabut dalam belajar dan memakan makanan
ringan di kelas, serta tindakan lainnya.
Sikap
siswa seperti ini yang menjadikan disiplin di sekolah tidak berjalan dengan
maksimal. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Soejitno Irmim dan
Abdul Rochim (dalam Soegeng Priyodarminto, 2004:101-119) pandangan yang bisa
menghambat jalannya disiplin adalah menganggap disiplin sebagai siksaan, merasa
tidak ada yang mengawasi, menuruti hawa nafsunya, sikap egois dan mencari
enaknya sendiri, contoh yang tidak baik, kesempatan melakukan perbuatan
menyimpang, tidak merasa berdosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar