Minggu, 23 Juni 2019

ARTIKEL PENGARUH KEDISIPLINAN SISWA DI SEKOLAH

KEDISIPLINAN SISWA

A.  Kedisiplinan Siswa
1.    Pengertian Disiplin
Menurut Kadir (1994:80), disiplin adalah: “kepatuhan terhadap peraturan atau tunduk pada pengawasan atau pengendalian. Kedua disiplin yang bertujuan mengembangkan watak agar dapat mengendalikan diri, agar berperilaku tertib dan efisien”, Sedangkan disiplin menurut Djamrah, (2002: 12), adalah: “suatu tata tertib yang mengatur tatanan kehidupan pribadi dan kelompok”. Kedisiplinan mempunyai peranan penting dalam mencapai tujuan pendidikan.
Dari pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah kepatuhan terhadap peraturan yang ada dalam tatanan hidup baik dalam kehidupan individu maupun kelompok. Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan berdisiplin apabila seseorang dapat melaksanaan tugas dengan baik sesuai dengan aturan-aturan yang ada.
2.    Disiplin Siswa
Seorang siswa yang disiplin dalam tugasnya dilingkungan sekolah juga dapat menjadi cermin bagi sikap dan perilakunya, seperti yang telah dikatakan oleh Syamsul Kurniawan (2017:90) yang mengatakan: “Kedisiplinan adalah cermin kehidupan suatu masyarakat atau bangsa. Maknanya, dari gambaran tingkat kedisiplinan suatu bangsa akan dapat dibayangkan seberapa tingkatan tinggi rendahnya budaya bangsa yang dimilikinya”.
Disiplin seorang siswa dalam lingkungan sekolah sangat diharapkan demi mendukung mutu atau kualitas sekolah tersebut dalam meraih akreditasi sekolah menjadi lebih baik lagi. Arti disiplin bila dilihat dari segi bahasanya adalah latihan ingatan dan watak untuk menciptakan pengawasan (kontrol diri), atau kebiasaan mematuhi ketentuan dan perintah. Jadi arti disiplin secara lengkap adalah kesadaran untuk melakukan suatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku dengan penuh tanggung jawab tampa paksaan dari siapa pun (Asy Mas’udi, 2000:88).
Sikap patuh terhadap peraturan-peraturan yang ada, yang berarti mengikuti orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin itu sudah merupakan sikap disiplin. Tatang S. (2015:174) mengatakan: “Dalam organisasi sekolah penerapan peraturan sekolah kepada anggota organisasi sekolah dikelola oleh pimpinan. Pimpinan diharapkan mampu menerapkan konsep disiplin positif, yaitu penerapan peraturan melalui kesadaran bawahannya. Sebaliknya, jika pimpinan tidak mampu menerapkan konsep disiplin positif pada dirinya sendiri, tentu ia tidak mungkin mampu menerapkannya kepada orang lain, termasuk kepada bawahannya. Dengan demikian, disiplin itu sangat penting dalam proses pencapaian tujuan. Hal ini merupakan suatu syarat yang sangat menentukan dalam pencapaian tujuan yang dimaksud”.
Seorang guru sangat berperan penting dalam menegekkan sikap disiplin siswa, terutama sikap disiplin siswa di dalam kelas saat proses belajar mengajar sedang berlangsung. Zuldafrial (2009:124), menyatakan bahwa dalam rangka untuk menciptakan suasana kelas yang efektif bagi berlangsungnya proses belajar mengajar, maka disiplin kelas perlu ditegakkan oleh guru maupun murid-murid.

3.    Diplin Belajar Siswa
Disiplin belajar merupakan suatu kondisi yang sangat penting dan menentukan keberhasilan seorang siswa dalam proses belajarnya. Disiplin merupakan titik pusat dalam pendidikan, tanpa disiplin tidak akan ada kesepakatan antara guru dan siswa yang mengakibatkan prestasi yang dicapai kurang optimal terutama dalam belajar. Berikut adalah pendapat disiplin menurut para ahli. Perilaku disiplin sangatlah diperlukan oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun, begitu juga siswa yang harus disiplin dalam mentaati tata tertib sekolah, ketaatan dalam belajar, disiplin dalam mengerjakan tugas dan disiplin dalam belajar di rumah sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
4.    Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Belajar
Permasalahan disiplin belajar siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau hasil belajarnya. Permasalahan-permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, pada umumnya berasal dari faktor intern yaitu dari siswa itu sendiri maupun faktor ekstern yang berasal dari luar. 
Beberapa faktor yang mempengaruhi disiplin adalah sebagai berikut:
·       Kesadaran diri, berfungsi sebagai pemahaman diri bahwa disiplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain kesadaran diri menjadi motif sangat kuat bagi terbentuknya disiplin.
·       Pengikut dan ketaatan, sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan-peraturan yang mengatur perilaku individunya. Hal ini sebagai kelanjutan dari adanya kesadaran diri yang dihasilkan oleh kemampuan dan kemauan diri yang kuat.
·       Alat pendidikan, untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai yang ditentukan dan diajarkan.
Hukuman, sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali pada perilaku yang sesuai dengan harapan (Tu’u, 2004:48-49).
5.    Disiplin Kelas
Untuk memahami tentang konsep disiplin kelas, perlu kiranya diketengahkan beberapa pendapat tentang disiplin tersebut. Menurut The Liang Gie (Zuldafrial, 2009:124) mengatakan: “yang dimaksud dengan disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergantung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati”.
Berdasarkan pendapat diatas maka disiplin kelas dapat diartikan sebagai suatu keadaan tertib dimana guru dan murid-murid mematuhi peraturan kelas sehingga mereka dapat menjalankan fungsi masing-masing secara efektif dalam pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar didalam kelas.
6.    Jenis-jenis Disiplin Kelas
Berdasarkan uraian diatas, disiplin kelas dapat dibedakan menjadi dua jenis menurut Zuldafrial (2009:126) yaitu:
a.    Disiplin yang timbul atas kesadaran kelas sendiri (murid-murid dalam kelas)
Murid-murid dalam kelas tertib dan teratur dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh guru bukan karena takut terhadap sanksi yang akan diberikan, tetapi karena kesadaran dan kemauan sendiri. Disiplin kelas yang demikian akan membawa kelas menjadi dinamis dan produktif.
Disiplin kelas yang dinamis hanya dimungkinkan oleh kepemimpinan guru yang demokratis. Karena peraturan atau ketentuan digariskan untuk menjaga ketertiban kelas merupakan keputusan bersama antara guru/wali kelas dan murid-murid. Oleh karena itu baik guru maupun murid  terdorong dan merasa ikut bertanggung jawab untuk melaksanakan ketentuan tersebut dengan rasa ikhlas dan senang hati tampa merasa terpaksa.
b.    Disiplin yang timbul karena paksaan dari guru/wali kelas
Suatu keadaan tertib dan teratur didalam kelas pada saat berlangsungnya kegiatan belajar, bukanlah karena kesadaran atau kemauan murid-murid, tetapi karena takut terhadap sanksi yang diberikan oleh guru/wali kelas. Disiplin kelas bersifat semu, kelas hanya tertib apabila guru/wali kelas berada di dalam kelas.
Disiplin kelas yang demikian hanya dimungkinkan oleh tipe kepemimpinan guru/wali kelas yang bersifat otoriter. Murid-murid diharuskan untuk mematuhi peraturan kelas dan diancam akan diberikan hukuman yang berat apabila tidak dipatuhi atau dilanggar. Peraturan yang digariskan adalah peraturan yang di buat oleh guru/wali kelas sendiri.

7.    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kelas
Zuldafrial (2009:127) mengatakan: “Dalam setiap organisasi kerja, baik besar maupun kecil dalam usaha untuk mewujudkandisiplin terhadap personalnya, selalu dipengaruhi berbagai faktor”. Dengan demikian, sama halnya dengan kelas sebagai suatu organisasi kecil dibidang pendidikan dalam usaha untuk menegakkan disiplin terhadap guru-guru maupun murid-murid.
Disiplin guru dan murid-murid sangat penting sekali artinya, sebab tampa kedisiplinan guru dan murid, maka aktivitas belajar mengajar tidak efektif dan tentu saja akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan, khususnya tujuan intruksional. Agar disiplin kelas dapat dipelihara dan ditingkatkan, maka guru/wali kelas hendaknya harus mengetahui dan memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kelas.
Sehubungan dengan itu, Siti Meichati (Zuldafrial 2009:128) mengemukakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kelas yaitu sebagai berikut:
a.    Faktor kesehatan
Kesehatan seseorang pada umumnya mempunyai pengaruh besar terhadap disiplin kerja. Orang-orangyang sakit tentu sudah tidak dapat menegakkan disiplin kerja, karena sakit dapat mengakibatkan seseorang akan tidak fokus pada kerjaan jika ia masih mampu untuk bekerja dan orang yang sakit akan juga dapat menyebabkan tidak masuknya kerja yang disebabkan oleh sakit.
Demikian pila dengan guru-guru dan murid-murid yang sering sakit-sakitan tidak dapat menegakkan disiplin. Sebagai contoh misalnya berdasarkan ketentuan, seorang guru bidang studi ilmu pengetahuan sosial harus dapat menyelesaikan materi pelajaran dalam waktu satu semester. Tetapi karena sering tidak masuk kelas karena sakit, maka guru tersebut tidak dapat menyampaikan materi pelajaran mata pelajaran yang diampunya sesuai dengan program mengajarnya yang telah disusunnya dalam satu semester.
Demikian pula halnya dengan murid yang seharusnya sudah menerima seluruh materi pelajaran yang disampaikan oleh guru, karena sakit sering tidak masuk sehingga ketinggalan pelajaran. Dari pernyataan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kesehatan juga tidak kalah pnetingnya untuk mendukung diri seseorang untuk disiplin.
b.    Faktor Perorangan
Yang dimaksud faktor perorangan adalah sikap seseorang terhadap suatu peraturan. Walaupun sudah mengetahui tentang ketentuan atau peraturan yang sudah ada masih juga dilanggar, atau bersikap acuh tak acuh terhadap ketentuan tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari murid-murid yang tidak mau mengindahkan peraturan digariskan baik oleh guru/wali kelas maupun oleh sekolah. Sebagai contoh misalnya hari senin murid-murid diharuskan untuk ikut apel bendera dan memakai pakaian seragam sekolah. Tetapi peraturan tersebut masih juga dilanggar murid, walaupun ia sudah mengetahuinya.
c.    Faktor Sosial
Yang dimaksudkan dengan faktor sosial di sini adalah faktor manusia, manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial maka manusia mempunyai kecenderungan-kecenderungan sebagai akibat:
1.    Manusia didalam kelompoknya selalu ingin diikutsertakan.
2.    Manusia didalam kelompoknya ingin diperhatikan.
3.    Manusia didalam kelompoknya selalu ingin berhasil dan dihargai kelompoknya.
4.    Manusia didalam kelompoknya memerlukan penghargaan dan perasaan diperlukan oleh orang lain.
5.    Manusia didalam kelompoknya memerlukan sesuatu yang dapat membebaskan diri dari keterikatan waktu dan ruang.
Murid-murid atau siswa-siswa sebagai manusia, makhluk sosial tidak terlepas dari kecenderungan-kecenderungan tersebut. Oleh karena itu seorang guru/wali kelas dalam usaha untuk menciptakan, memelihara dan meningkatkan disiplin kelas harus memperhatikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh seroang guru/wali kelas dalam mengambil suatu keputusan yang menyangkut kepentingan kelas, tampa berunding dengan murid-murid, mengakibatkan keputusan-keputusan tersebut tidak dilaksanakan atau dipatuhi oleh murid-muridnya.
d.   Faktor Lingkungan
Lingkungan kerja yang baik dan sehat dapat meningkatkan gairah kerja personil yang ada dalam suatu organisasi. Hal ini membawa pengaruh pula pada peningkatan disiplin kerja personil. Demikian pula lingkungan kerja yang kurang baik akan menurunkan semangat kerja dan gairah kerja suatu organisasi yang pada akhirnya juga akan menurunkan disiplin kerja.
Kelas yang lingkungan kerjanya sehat dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang baik antara murid dengan murid, guru dengan murid dan guru dengan guru akan meningkatkan disiplin belajar mengajar dikelas. Dengan demikian lingkungan belajar yang baik akan memberi dampak yang baik pula untuk proses belajar mengajar.
·        
B.  Bentuk Pelaksanaan Disiplin
Menurut Fani Julia dalam jurnalnya yang berjudul “Disiplin Siswa di Sekolah dan Implikasinya dalam Pelayanan Bimbingan dan Konselingmenyatakan ada lima bentuk pelaksanaan disiplin, yaitu:
1.    Disiplin dalam kerapian
Siswa menyadari kebutuhan dan kewajibannya sebagai pelajar untuk mematuhi dan mengikuti aturan yang ada di sekolah. Hal ini senada dalam Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.14/U/1979 tertanggal 1 Mei 1974 yang dikutip Nawawi (1985) menyatakan:
Aspek-aspek yang tercakup dalam tata tertib itu adalah sebagai berikut:1) Tugas dan kewajiban dalam kegiatan sekolah, meliputi: a) Masuk sekolah. b) Waktu belajar. c) Waktu istirahat. d) Waktu pulang. 2) Larangan-larangan bagi siswa: Meninggalkan sekolah/pelajaran selama jam-jam pelajaran berlangsung, tanpa izin kepala sekolah, guru yang bersangkutan dan guru piket. 3) Sanksi-sanksi bagi para siswa, dapat berupa: a) Peringatan secara lisan langsung kepada siswa. b) Peringatan tertulis kepada pelajar dengan tembusan kepada orang tua/wali.
Dengan adanya kesadaran siswa untuk menjalankan peraturan dan tata tertib yang ada maka siswa akan bertingkah laku sesuai dengan aturan tersebut, dan mempunyai dampak positif terhadap keberhasilan siswa dalam belajar.
2.    Disiplin dalam kerajinan
Sebagaimana yang dikemukakan oleh TUU Tulus (2004:48) tanpa disiplin yang baik, kegiatan dan proses pendidikan akan terganggu karena ada yang melanggar disiplin sekolah. Pelaksanaan peraturan dalam kerajian kepada siswa juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Siswa yang menerapkan peraturan dengan baik akan memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak menerapkan peraturan dengan baik.
3.    Disiplin dalam kebersihan lingkungan
Kebersihan lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama untuk menunjang pelaksanaan proses belajar mengajar. Sesuai dengan pendapat TUU Tulus (2004:36) yang menyatakan bahwa lingkungan sekolah yang teratur, tertib, tenang tersebut memberikan gambaran lingkungan siswa yang giat, gigih, serius, penuh perhatian, sungguh-sungguh dan kompetitif dalam kegiatan pembelajaran.
Lingkungan sekolah diartikan sebagai lingkungan dimana siswa dibiasakan dengan nilai-nilai tata tertib sekolah dan nilai-nilai kegiatan pembelajaran berbagai bidang studi. Ini berarti memang kebersihan lingkungan sekolah itu sangat perlu dijaga dan dilestarikan. Hal ini dimaksudkan agar siswa mampu melaksanakan proses belajar dengan baik untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
4.    Disiplin dalam pengaturan waktu belajar
Dengan adanya pengaturan waktu ini dan adanya jadwal yang tepat dapat membantu siswa untuk disiplin dan bisa mengatur waktu seoptimal mungkin. Menurut Maman Rahman 1999 (dalam TUU Tulus, 2004:35) bahwa dengan adanya penerapan disiplin akan membantu peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat bagi lingkungannya. Kebiasaan-kebiasaan yang dapat dikembangkan oleh siswa adalah bagaimana ia bisa mengatur waktu belajar baik di sekolah maupun dirumah.
5.    Disiplin dalam kelakuan
Dalam menjalankan sikap disiplin dalam kelauan, sering kali kita mendengar cerita-cerita dari pelajar yang secara tidak sengaja kita dengar bahwa disiplin dalam kelakuan ini terus terjadi sampai saat ini, yaitu masih ada siswa yang sering keluar masuk kelas ketika guru sedang menerangkan pelajaran, siswa terlambat menyerahkan tugas yang diberikan guru,cabut dalam belajar dan memakan makanan ringan di kelas, serta tindakan lainnya.
Sikap siswa seperti ini yang menjadikan disiplin di sekolah tidak berjalan dengan maksimal. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Soejitno Irmim dan Abdul Rochim (dalam Soegeng Priyodarminto, 2004:101-119) pandangan yang bisa menghambat jalannya disiplin adalah menganggap disiplin sebagai siksaan, merasa tidak ada yang mengawasi, menuruti hawa nafsunya, sikap egois dan mencari enaknya sendiri, contoh yang tidak baik, kesempatan melakukan perbuatan menyimpang, tidak merasa berdosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar