Selasa, 08 Februari 2022

Makalah Sejarah Indonesia Abad XIX - Sistem Ekonomi

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Pengertian Sistem Ekonomi

Untuk mengatasi masalah ekonomi yang bersifat fundamental (what, how dan for whom) setiap masyarakat mempunyai cara yang berbeda dalam memecahkannya sesuai dengan sistem ekonomi yang dianutnya. Cara suatu masyarakat mengatur kehidupan ekonominya disebut sistem ekonomi atau tata ekonomi. Ada pula yang mengartikan bahwa sistem ekonomi itu merupakan keseluruhan lembaga ekonomi yang dilaksanakan atau dipergunakan oleh suatu bangsa atau negara dalam melakukan kegiatan ekonominya. Lembaga ekonomi yang dimaksudkan di sini adalah berupa pedoman, aturan atau kaidah yang dipergunakan masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi (produksi, distribusi dan konsumsi). Lembaga ekonomi tersebut ada yang bersifat tertulis seperti undang-undang, peraturan pemerintah, instruksi presiden, dsb. Ada pula yang bersifat tidak tertulis seperti kebiasaan, adat-istiadat, cara-cara yang biasa dilakukan suatu masyarakat dalam melakukan kegiatan ekonomi. Jadi, perangkat kelembagaan ini meliputi cara kerja, mekanisme hubungan hukum, peraturan-peraturan perekonomian, dan norma-norma lain yang tertulis maupun tidak tertulis yang berkaitan dengan kegiatan ekonominya. Suatu sistem ekonomi tidaklah berdiri sendiri, sebab berkaitan dengan falsafah atau pandangan hidup masyarakatnya. Sebuah sistem ekonomi sesungguhnya merupakan salah satu unsur saja dalam sistem kehidupan masyarakat.

Dengan kata lain, sistem ekonomi merupakan bagian dari kesatuan ideologi kehidupan bermasyarakat pada suatu negara atau bangsa. Sistem ekonomi yang dianut suatu negara biasanya bersifat khas. Untuk membedakannya dengan sistem ekonomi yang diterapkan oleh negara lain, bisa digunakan sudut pandangan yang menyangkut :

 

1.      Sistem pemilikan sumber daya atau faktor-faktor produksi

2.      Kebebasan masyarakat untuk saling berkompetisi satu sama lain

3.      Peranan pemerintah dalam mengatur kehidupan ekonomi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Definisi

Sistem ekonomi adalah cara suatu negara mengatur kehidupan ekonominya dalam rangka mencapai kemakmuran. Pelaksanaan sistem ekonomi suatu negara tercermin dalam keseluruhan lembaga-lembaga ekonomi yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sistem perekonomian negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ideologi/falsafah hidup bangsa, sifat dan jati diri bangsa, serta struktur ekonomi.

 

B.  Macam – Macam Sistem Ekonomi

1.     Sistem Ekonomi Liberal/Kapitalis/Pasar

Sistem ekonomi liberal yaitu sistem ekonomi dimana ekonomi diatur oleh kekuatan pasar (permintaan dan penawaran). Sistem ekonomi liberal menghendaki adanya kebebasan individu melakukan kegiatan ekonomi. Sistem ekonomi liberal banyak dianut negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

a)    Ciri-ciri sistem ekonomi liberal:

-          Adanya pengakuan terhadap hak individu

-          Kedaulatan konsumen dan kebebasan dalam konsumsi

-          Menerapkan sistem persaingan bebas

-          Peranan modal sangat penting

-          Peranan pemerintah dibatasi

-          Motif mencari laba terpusat pada kepentingan individu

b)   Kelebihan sistem ekonomi liberal:

-          Setiap individu bebas menentukan perekonomiannya sendiri

-          Setiap individu bebas memiliki alat produksi sendiri

-          Kegiatan ekonomi lebih cepat maju karena adanya persaingan

-          Produksi didasarkan kebutuhan masyarakat

-          Kualitas barang lebih terjamin

-          Kualitas pelayanan terjamin

c)    Kelemahan sistem ekonomi liberal:

-          Menimbulkan monopoli

-          Terjadi kesenjangan

-          Rentan terhadap krisis ekonomi

-          Adanya eksploitasi

-          Tindakan yang kurang sehat dalam persaingan

 

2.    Sistem Ekonomi Sosialis/Komando/Terpusat

Sistem ekonomi sosialis yaitu sistem ekonomi dimana ekonomi diaturnegara. Dalam sistem ini, jalannya perekonomian sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara atau pemerintah pusat. Sistem ekonomi sosialis banyak diterapkan di negara-negara Eropa Timur yang pada umumnya menganut paham komunis.

a.    Ciri-ciri sistem ekonomi sosialis:

-          Hak milik individu tidak diakui

-          Seluruh sumber daya dikuasai negara

-          Jalannya kegiatan perekonomian sepenuhnya tanggung jawab

b.    Pemerintah:

-          Kegiatan ekonomi direncanakan dan diatur pemerintah

-          Produksi dilakukan untuk kebutuhan masyarakat

-          Kebijakan perekonomian disusun dan dilaksanakan pemerintah

c.    Kelebihan sistem ekonomi sosialis:

-          Pemerintah sepenuhnya bertanggung jawab terhadap perekonomian

-          Pemerintah bebas menentukan produksi sesuai kebutuhan masyarakat

-          Pemerintah mengatur distribusi

-          Mudah dalam pengelolaan, pengendalian dan pengawasan

-          Pelaksanaan pembangunan lebih cepat

-          Kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata

d.   Kelemahan sistem ekonomi sosialis:

-          Hak milik individu tidak diakui

-          Individu tidak mempunyai kebebasan dalam berusaha

-          Potensi dan kreativitas masyarakat tidak berkembang

-          Jalur birokrasi panjang

 

3.    Sistem Ekonomi Campuran

Sistem ekonomi campuran merupakan penggabungan atau campuran antara sistem ekonomi liberal dan sosialis. Dalam sistem ini pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta dalam menjalankan kegiatan perekonomian. Sistem ini banyak diterapkan di negara-negara yang sedang berkembang.

a.    Ciri-ciri sistem ekonomi campuran:

-          Kegiatan ekonomi dilakukan oleh pemerintah dan swasta

-          Transaksi ekonomi terjadi melalui mekanisme pasar tetapi masih ada

b.    campur tangan pemerintah

-          Ada persaingan, tetapi masih ada kontrol pemerintah

c.    Kelebihan sistem ekonomi campuran:

-          Kestabilan ekonomi terjamin

-          Pemerintah dapat memfokuskan perhatian untuk memajukan sektor

d.   usaha menengah dan kecil:

-          Adanya kebebasan berusaha dapat mendorong kreativitas individu

-          Hak milik individu atas sumber produksi diakui walaupun ada

e.    Pembatasan:

-          Lebih mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi

 

 

f.     Kelemahan sistem ekonomi campuran:

-          Sulit menentukan batas antara kegiatan ekonomi yang seharusnya dilakukan pemerintah dan swasta

-          Sulit menentukan batas antara sumber produksi yang dapat dikuasai oleh pemerintah dan swasta

 

C.  Keadaan Ekonomi Rakyat pada Masa Liberal

`Berbeda dengan industri-industri perkebunan besar di Jawa yang berkembang dengan pesat pada masa liberalisme dan sangat menguntungkan bagi pengusahapengusaha swasta Belanda dan pemerintah kolonial, maka sebaliknya pada masa yang sama tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia terutama Jawa semakin mundur. Jumlah penduduk yang semakin bertambah sehingga semakin memperbesar tekanan terhadap sumber-sumber bahan pangan. Tanah yang terbaik kualitasnya sudah digunakan, sehingga tanaman-tanaman padi hanya ditanam pada lahan yang tandus saja. Pembebasan petani secara berangsur-angsur dari penanaman komoditi eksport yang sifatnya paksaan hanya menimbulkan sedikit perbaikan, karena pajak tanah dan bentukbentuk pembayaran lainnya masih tetap harus diserahkan kepada pemerintah, tetapi sumber penghasilan untuk membayar pajak tersebut telah dihapuskan. Penderitaan itu sangat dirasakan terutama di daerah penanaman kopi, karena lahan yang digunakan untuk menanam kopi tidak dapat digunakan lagi untuk penanaman yang lainnya.

Krisis perdagangan tahun 1885 juga mempersempit penghasilan penduduk Jawa, baik baik berupa upah yang berlaku bagi pekerjaan perkebunan mauoun yang berupa sewa tanah. Menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat Jawa dapat dilihat pula dari menurunnya angka-angka impor barang-barang konsumsi, seperti tekstil, pada akhir abad ke-19. Di bawah ini beberapa faktor yang menyebabkan kemiskinan rakyat Indonesia

 

 

Khususnya Jawa yaitu :

a.    Kemakmuran rakyat ditentukan oleh perbandingan antara jumlah penduduk dan faktor-faktor produksi lainnya seperti tanah dan modal. Rakyat Jawa bermodal sangat sedikit sedangkan jumlah penduduk sangat besar.

b.    Tingkat kemajuan rakyat belum begitu tinggi, sehingga hanya dijadikan umpan bagi kaum kapitalis.

c.    Penghasilan rakyat yang diperkecil dengan sistem verscoot (uang muka).

d.   Sistem tanam paksa dihapus, namun diberlakukan sistem batiq saldo.

e.    Krisis tahun 1885 mengakibatkan terjadinya penciutan dalam kegiatan pengusahapengusaha perkebunan gula yang berarti menurunnya upah kerja dan sewa tanah bagi penduduk. 6

Periode sejarah Indonesia 1870 – 1900 sering disebut sebagai masa liberalimse. Pada periode ini kaum pengusaha dan modal swasta diberikan peluang sepenuhnya untuk menanamkan modalnya dalam berbagai usaha kegiatan di Indonesia terutama dalam industri – industri perkebunan besar baik jawa maupun daerah – daerah luar jawa. Selam amsa liberalisme ini modal swasta dari Belanda dan negara – negara Eropa lainnya telah berhasil mendirikan berbagai perkebunan kopi, teh, gula dan kina yang besar di Deli, Sumatera Timur.

Pada tahun 1870 dikeluarkan Undang – Undang Agraria, yang bertujuan untuk melindungi petani – petani Indonesia terhadap kehilangan hak milik atas tanah mereka terhadap irang – orang asing. Sejak tahun ini industri – industri perkebunan Eropa mulai masuk ke Indonesia. Terdapat perbedaan antara tanam paksa (culturestelsel) dengan industri – industri perkebunan swasta pada masa liberal yaitu terlatak pada bahwa dalam msa industri perkebunan liberal rakyat Indonesia bebas dalam menggunakan tenaganya dan tanahnya, sedang dalam tanam paksa kedua alat produksi itu dimiliki dan dikuasai oleh pemerintah. Seiring berkembangnya dunia pertumbuhan industri Indonesia juga berkembang dengan adanya terussan Suez pada tahun 1869 yasng memperpendek jarak antara Eropa dengan Asia.

Zaman liberal mengakibatkan ekonomi uang masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia terutama Jawa. Penduduk pribumi mulai menyewakan tanah tanahnya kepada perusahaan perusahaan swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan perkebunan besar. Masuknya pengaruh ekonomi Barat juga melalui impor barang – barang dari negeri Belanda. Hilangnya matapencaharian penduduk di sector tradisional mendorong lebih jauh pengaruh system ekonomi uang, karena memaksa penduduk untuk mencari pekerjaan pada perkebunan – perkebunan besar milik orang Belanda atau orang Eropa lainnya. Lapangan kerja baru yang tumbuh seiring dengan berkembangnya industri – industri perkebunan besar di Indonesia adalah perdagangan perantara.

1.    Merosotnya Kesejahteraan Rakyat Indonesia

Krisis perdagangan tahun 1885 juga mempersempit penghasilan penduduk jawa, baik uang berupa upah bagi pekerjaan di perkebunan – perkebunan maupun yang berupa sewa tanah. Politik kolonial baru yaitu kolonial – liberal, semakin membuat rakyat menjadi miskin. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor :

a.    Kemakmuran rakyat ditentukan oleh perbandingan antara jumlah penduduk dan faktor – faktor produksi lainnya seperti tanah dan modal.

b.    Tingkat kemajuan rakyat belum begitu tinggi, akibatnya mereka menjadi umpan kaum kapitalis. Mereka belum mengenal sarekat kerja dan koperasi untuk memperkuat kedudukan mereka.

c.    Penghasilan rakyat masih diperkecil oleh system voorschot (uang muka)

d.   Kepada rakyat Jawa dipikulkan the burden of empire (pajak /beban kerajaan). Sebagai akibat politik tidak campur tangan Belanda terhadap daerah luar jawa, pulau Jawa harus membiayai ongkos – ongkos pemerintahan gubernmen diseluruh Indonesia.

e.    Keuntungan mengalir di negeri Belanda, pemerintah juga tidak menarik pajak dari keuntungan – keuntungan yang didapat para pengusaha kapaitalis. Pemerintah menganut system pajak regresif, yang sangat memberatkan golongan berpendapatan rendah.

f.     Meskipun system tanam paksa telah dihapuskan tetapi politik batig – slot belum ditinggalkan.

g.    Krisis tahun 1885 mengakibatkan terjadinya pinciutan dalam kegiatan pengusaha – pengusaha perkebunan gula, yang berarti menurunnya upah kerja sewa tanah bagi penduduk. Krisis ini diperberat dengan timbulnya penyakit sereh pada tanaman tebu, sehingga akhirnya pulau Jawa dalam waktu lama dijauhi oleh kaum kapitalis Belanda.

 

D.  Sistem Ekonomi Liberal

Periode sejarah Indonesia1870-1900 sering disebut sebagai masa liberalisme. Pada periode tersebut untuk pertama kalinya dalamsejarah kolonial Indonesia kepada kaum pengusaha dan modal swasta diberikan peluang sepenuhnya untuk menanamkan modalnya dalam berbagai usaha kegiatan di Indonesia terutama dalam industri-industri perkebunan besar baik di Jawa maupun daerah-daerah luar Jawa. Selama masa ini modal swasta dari Belanda dan negara-negara Eropa lainnya telah mendirikan berbagai perkebunan kopi, teh, gula, dan kina yang besar di Deli, Sumatera Timur. 2 1 G. Moedjanto. 1988. Indonesia Abad ke-20. Yogyakarta : Kanisius. hlm. 19-20 2 A. Daliman. 2001. Sejarah Indonesia Abad 19- Awal Abad 20.

Pembukaan perkebunan-perkebunan besar ini dimungkinkan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Agraria tahun 1870. Di satu pihak Undang Undang Agraria itu bertujuan melindungi petani-petani Indonesia terhadap kehilangan hak milik atas tanah mereka terhadap orang-orang asing, dan di pihak lain Undang-Undang tersebut membuka peluang bagi orang-orang asing untuk menyewa tanah dari rakyat Indonesia bagi kepentingan perkebunan. Demikianlah sejak tahun 1870 industri-industri perkebunan Eropa mulai masuk ke Indonesia. Dengan dibebaskannya kehidupan ekonomi dari segala campur tangan pemerintah serta penghapusan unsur paksaan dari kehidupan ekonomi akan mendorong perkembangan ekonomi Hindia-Belanda. Undang- undang Agraria tahun 1870 membuka Jawa bagi perusahaan swasta. Kebebasan dan keamanan para pengusaha dijamin. Hanya orang-orang Indonesialah yang dapat memiliki tanah, tetapi orang-orang asing diperkenankan menyewanya dari pemerintah sampai selama tujuh puluh lima tahun atau dari para pemilik pribumi untuk masa paling lama antara lima dan dua puluh tahun. Perkebunan swasta kini dapat berkembang di Jawa maupun di daerah-daerah luar Jawa. Pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 dan perkembangan pelayaran dengan kapal uap dari waktu itu mendorong lebih lanjut perkembangan swasta dengan semakin membaiknya sistem perhubungan dengan Eropa. Perbaikan sistem perkapalan juga dapat memperlancar transportasi. Mulai tahun 1877 dibangun adanya pelabuhan, jalur kereta api, pengembangan lalu lintas, dan telekomunikasi. Namun demikian, semua itu bagi rakyat Indonesia hanya menjadi titik awal eksploitasi ekonomi baru oleh kaum kapitalis(modal swasta).

Zaman liberal mengakibatkan penetrasi ekonomi yang masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di Jawa. Penduduk pribumi di Jawa mulai menyewakan tanah-tanah mereka kepada pihak swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan-perkebunan besar. Berkembangnya perkebunan-perkebunan tersebut memberikan peluang kepada rakyat Indonesia untuk bekerja sebagai buruh perkebunan. Selain itu juga penetrasi di bidang eksport import tekstil yang mematikan kegiatan kerajinan tenun di Jawa. Perkembangan pesat perkebunan-perkebunan teh, kopi, tembakau, dan tanaman-tanaman perdagangan lainnya berlangsung antara 1870-1885. Selama masa ini mereka mampu meraup keuntungan yang besar dari penjualan barangbarang ini di pasar dunia. Setelah tahun 1885 perkembangan tanaman perdagangan mulai berjalan seret, karena jatuhnya harga-harga gula dan kopi di pasaran dunia. Dalam tahun 1891 harga pasaran tembakau dunia juga turun drastis. Jatuhnya harga gula di pasaran dunia dikarenakan penanaman gula bityang mulai ditanam di Eropa, sehingga mereka tidak perlu mengimpor lagi gula dari Indonesia. Krisis perdagangan tahun 1885 mengakibatkan terjadinya reorganisasi dalam kehidupan ekonomi Hindia-belanda. Perkebunan-perkebunan besar tidak lagi milik perseorangan tetapi direorganisasi sebagai perseroan terbatas. Bank perkebunan juga tetap memberikan pinjaman bagi perkebunan, namun setelah adanya krisis 1885 merekapun mengadakan pengawasan atas operasi perkebunan-perkebunan besar itu. Pada akhir abad ke- 19, terjadi perkembangan baru dalam kehidupan ekonomi di Hindia-Belanda. Sistem liberalisme murni dengan persaingan bebas mulai ditinggalkandan digantikan dengan sistem ekonomi terpimpin. Kehidupan ekonomi Hindia-Belanda, khususnya Jawa mulai dikendalikan oleh kepentingan finansial dan industriil di negeri Belanda, dan tidak diserahkan kepada pemimpin pemimpin perkebunan besar yang berkedudukan di Jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Daliman. 2001. Sejarah Indonesia Abad 19- Awal Abad 20. Yogyakarta : FIS UNY

G. Moedjanto. 1988. Indonesia Abad ke-20. Yogyakarta : Kanisius

M. C. Ricklef. 1991. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : UGM Press 6 Op. Cit. hlm. 59 Click here to buy ABBYY PDF Transformer 2.0 www.ABBYY.com Click here to buy ABBYY PDF Transformer 2.0 www.ABBYY.com

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar